
Salmiah, taruni SMK Negeri 2 Tanjung Jabung Timur sekaligus peserta LKS Tingkat Nasional Cabang Fishery, mengembangkan pemanfaatan ekstrak daun jeruju untuk meningkatkan penetasan telur lele sangkuriang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun jeruju dosis 1 ml per liter mampu meningkatkan tingkat penetasan telur dari 50 persen pada media kontrol menjadi 77 persen, sehingga berpotensi menjadi alternatif alami yang ramah lingkungan dalam kegiatan pembenihan ikan.
Tanjung Jabung Timur – Taruni SMK Negeri 2 Tanjung Jabung Timur, Salmiah, Peserta Lomba Kompetensi Siswa atau LKS Tingkat Nasional Cabang Lomba Fishery, mengembangkan inovasi pemanfaatan ekstrak daun jeruju untuk meningkatkan keberhasilan penetasan telur lele sangkuriang secara buatan.
Inovasi tersebut dituangkan dalam makalah berjudul “Pengaruh Penggunaan Ekstrak Daun Jeruju (Acanthus ilicifolius) terhadap Tingkat Penetasan Telur pada Pemijahan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) secara Buatan.”
Penelitian ini berangkat dari melimpahnya tumbuhan jeruju di wilayah pesisir Nipah Panjang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Masyarakat sering menganggap jeruju sebagai tumbuhan pengganggu karena memiliki duri tajam dan dapat tumbuh dengan cepat. Namun, daun jeruju mengandung senyawa bioaktif berupa flavonoid, polifenol, saponin, dan tanin yang berpotensi sebagai antibakteri dan antijamur.
Salmiah memanfaatkan kandungan tersebut sebagai bahan alami untuk mendukung proses pembenihan ikan lele sangkuriang. Penggunaan bahan alami ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pembudidaya terhadap bahan kimia yang berpotensi mencemari lingkungan perairan.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Agribisnis Perikanan SMK Negeri 2 Tanjung Jabung Timur pada Mei hingga Juni 2026. Penelitian menggunakan dua media penetasan telur.
Media pertama merupakan akuarium kontrol tanpa penambahan ekstrak daun jeruju. Media kedua menggunakan ekstrak daun jeruju dengan dosis 1 mililiter per liter air.
Proses pembuatan ekstrak dimulai dengan membersihkan daun jeruju, membuang duri, dan memotong daun menjadi bagian kecil. Sebanyak 50 gram daun kemudian dihaluskan menggunakan 200 mililiter air. Larutan tersebut disaring menggunakan kain nilon untuk memisahkan ekstrak dari ampas daun.
Telur lele hasil pemijahan buatan kemudian ditempatkan pada kedua media. Salmiah mengamati tingkat pembuahan atau Fertilization Rate dan tingkat penetasan atau Hatching Rate untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun jeruju.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun jeruju memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan media kontrol.
Tingkat pembuahan telur pada media kontrol mencapai 91 persen, sedangkan media yang menggunakan ekstrak daun jeruju mencapai 96 persen. Pada media perlakuan, sebanyak 763 dari 793 butir telur berhasil dibuahi.
Perbedaan lebih besar terlihat pada tingkat penetasan telur. Media kontrol menghasilkan tingkat penetasan sebesar 50 persen, sedangkan media dengan ekstrak daun jeruju menghasilkan tingkat penetasan sebesar 77 persen. Sebanyak 612 dari 763 telur yang dibuahi pada media perlakuan berhasil menetas.
Pengamatan juga menunjukkan bahwa ekstrak daun jeruju berpotensi menghambat pertumbuhan jamur pada telur. Kandungan bioaktif dalam daun jeruju diduga membantu melindungi telur selama proses inkubasi.
Selain meningkatkan tingkat penetasan telur, ekstrak daun jeruju juga membantu memperbaiki kondisi media penetasan. Penambahan ekstrak dengan dosis 1 mililiter per liter mampu meningkatkan pH air dari 5,8 menjadi 6,7.
Perubahan pH dari kondisi asam menuju kondisi yang lebih netral dapat mendukung proses perkembangan embrio. Kondisi air yang stabil menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan penetasan telur ikan.
Penelitian Salmiah menunjukkan bahwa tumbuhan jeruju yang sering dianggap sebagai gulma ternyata memiliki manfaat bagi kegiatan budidaya perikanan. Pemanfaatan jeruju dapat menjadi alternatif alami, murah, dan lebih ramah lingkungan untuk mendukung pembenihan ikan lele.
Sebagai Peserta LKS Tingkat Nasional Cabang Lomba Fishery, Salmiah membawa inovasi yang menggabungkan kompetensi bidang perikanan, penelitian terapan, dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Kegiatan ini juga mencerminkan komitmen SMK Negeri 2 Tanjung Jabung Timur dalam membekali para taruni dengan kompetensi, kreativitas, dan kemampuan menghasilkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui penelitian tersebut, Salmiah diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada taruna dan taruni lainnya untuk terus mengembangkan inovasi di bidang perikanan yang aplikatif, berkelanjutan, dan sesuai dengan potensi wilayah pesisir.